MP3I Soroti Perkawinan Dini Pada Anak

-- --


Halqah Bahtsul Masail diharapkan tercapai solusi terbaik mencegah pernikahan mempelai berusia anak 

Lasem-Fenomena pernikahan dengan mempelai masih berusia anak masih banyak terjadi saat ini. Praktik pemaksaan pernikahan pada anak sendiri diketahui minim perhatian publik, negara dan bahkan agamamawan, sehingga perlu disorot dan diupayakan pencegahannya.

            Data BAPPENAS menunjukkan 34,6% anak Indonesia menikah dini dan dikuatkan data PLAN yang menunjukkan, 33,5% anak usia 13-18 tahun pernah menikah, Pernikahan dini berdampak pada tercerabutnya masa anak-anak dipaksa memasuki dunia dewasa secara instan yang diyakini  akan berpengaruh negatif terhdap kehidupan pernikahan dan masa depannya.

Hal tersebut mencuat dalam Halqoh Bahtsul Masail Pernikahan Usia Anak bekerja sama dengan Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren (MP3I) sebagai bagian dari langkah untuk melakukan kampanye pencegahan perkawinan anak ini. Kegiatan digelar dua hari Sabtu dan Minggu (19-20/3) di Ponpes Kauman Karangturi Kecamatan Lasem asuhan KH. M. Zaim Ahmad Maksum selaku Ketua Umum MP3I dihadiri perwakilan ponpes dan lembaga-lembaga yang konsen pada pernikahan usia anak dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY.

Imam Baehaqi salah seorang pantia pada kegiatan tersebut menyampaikan, Undang-undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974 menyebutkan persyaratan usia pernikahan adalah 16 untuk perempuan dan 19 untuk laki-laki adalah fakta betapa tidak sinkronnya antar kebijakan terkait perlindungan anak. Pada UU nomor 35 tahun 2014 perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah individu dengan usia dibawah 18 tahun dan orang tua wajib untuk mencegah terjadinya pernikahan dini.

Imam Baehaqi sebutkan walaupun ada beberapa persyaratan untuk pernikahan misalnya individu dibawah usia 21 tahun tetap harus mendapatkan ijin dari orangtuanya untuk menikah mengacu PP nomor 9 tahun 1975 yakni perlunya ijin bagi pernikahan dini dari pengadilanagama (Kompilasi Hukum Islam), serta perlunya adanya kesepakatan dari kedua mempelai jika akan menikah. Namun prakteknya pernikahan dini masih saja terjadi karena berbagai faktor.

Imam Baehaqi tambahkan, rendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan membuat masyarakat tidak menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan, sehingga jika terjadi pernikahan dini maka anak akan berhenti dari sekolahnya. 

H Asrorun Niam Sholeh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI dalam paparannya menyebutkan dalam perspektif agama, pernikahan usia anak memiliki istilah yang beragam, terdapat istilah Zawaj al mubakkir, Zawal al shaghirah (Pernikahan Anak) dan Zawaj al qashirat (pernikahan anak dibawah umur). Pendapat ulama bermuara pada 2 sikap, kelompok ulama yang mendukung perkawinan usia anak dan kelompok Ulama’ yang menolak.. (heru budi s)
Reaksi: 

Post a comment

Live 102.1 Radio CBFM

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::