Dalang Muda Diajab Lestarikan Wayang Purwa Gagrak Pesisiran Lasem

-- --

Ki Kartono generasi terakhir dalang wayang purwa gagrak pesisiran Lasem belum miliki kader penerus

 Lasem-Generasi akhir dalang wayang purwa gagrak pesisiran khas Lasem terdata tinggal empat orang dimana semuanya telah lanjut usia, menyisakan Ki Sahir Desa Jolotundo, Ki Ramelan Desa Doropayung, Ki Priyo dan Ki Kartono Desa Sendangasri yang semuanya berada di Kecamatan Lasem. Upaya pengkaderan belum tersentuh sehingga dikhawatirkan punah lantaran tak ada lagi yang sanggup memainkannya.

Dunia pakeliran wayang selama ini dikenal ada lima gagrak terdiri Surakarta dan Yogyakarta (Mataraman), Banyumasan, Pesisiran Tegal, Pesisiran/Lasem serta Jawa Timuran. Kemunculannya tak lepas dari perkembangan budaya dan hubungan antar daerah di masa lampau dimana masing-masing membawa ciri khas tampilan sifat kedaerahan yang diterapkan dalam permainan alat-alat gamelan/karawitan berikut pada permainan wayang.

       Ki Kartono (62) salah satu generasi akhir dalang wayang purwa gagrak peisiran Lasem ditemui di kediamannya kawasan RT 1/RW 1 Desa Sendangasri Kecamatan Lasem menuturkan penerapan tiap gagrak tidak saja dilakukan terhadap permainan alat-alat gamelan, tetapi juga terhadap cara memainkan alat gamelan, aransemen, komposisi, pagelaran wayang, bentuk-rupa wayang, jenis wayang, cara berbicara/antawacana), cara menceritakan/janturan, sulukan/nyanyian dhalang, cara nembang/menyanyikan hingga senggakan/vokal pengisi. Bahkan berlaku pula sampai ke pakaian adat atau pakaian tradisional yang dikenakan dalang, niyaga dan sinden antara lima gagrak tentu juga
saling berbeda.


       Dari jenis wayang yang dimainkan pada gagrak pesisiran Laseman sambung pensiunan Kepala TU UPT Dinas Pendidikan Sluke yang purna tahun 2010 silam dijelaskan perpaduan antara wayang golek dan wayang kulit pada lazimnya. Pagelaran berlangsung sebagaimana pakeliran wayang pada umumnya, dengan pakem babon kisah Mahabharata dan Ramayana serta lakon carangan yang diciptakan tetap menginduk/merujuk dua naskah induk
tersebut.

         Ayah dua anak dan kakek satu cucu yang mulai mendalang tahun 1971 terangkan wayang golek atau biasa disebut benthingan dimainkan pada jejeran pertama/pembukaan pakeliran atau penghantar lakon yang dimainkan, ditutup penghantar yang disampaikan tokoh golek cantik. Selanjutnya menggunakan wayang kulit biasa sampai berakhirnya lakon yang dibeber oleh dalang, hanya saja pada penutupan pagelaran kembali ditampilkan wayang golek cantik menyampaikan filosofi hidup dari isi lakon.

        Ki Kartono ungkapkan keunikan gagrak pesisiran Laseman terletak pada irama gending maupun tembang yang dimainkan niyaga dan sinden berbasis nada slendro, merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat pada gagrak lain. Permainan wayang, karawitan, dan vokal cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis dan juga sedih sembari dikatakan sejak tahun 93an sampai sekarang sudah jarang menerima job mendalang hingga dikhawatirkan punah jika tak dilestarikan.

     Disinggung ilmu mendalang gagrak peisisran Laseman baik dari generasi pertama sampai dengan dirinya, Ki Kartono akui belajar secara otodidak dalam semua hal yang melingkupinya. Adapun untuk jenis dan bentuk wayang yang dimainkan memang dibuat mengacu dalang sepuh generasi pertama bahkan dia mewarisi golek cantik dari pendahulunya Ki Gunadi dari Desa Selopuro Kecamatan Lasem, sekaligus mendapat gemblengan memainkan gagrak pesisiran yang selanjutnya menggantikan gurunya tersebut terjun mendalang.

    Perlahan tapi pasti upaya regenerasi telah dimulai Ki Kartono, diutamakan pada pelestarian memainkan gendhing melalui pelatihan karawitan ditujukan warga setempat mulai anak-anak hingga dewasa, seminggu satu kali untuk anak-anak diajarkan di SDN Sendangasri adapun
ibu-ibu dan remaja serta bapak-bapak bertempat di salah satu rekannya masih satu desa yang memiliki gamelan laras slendro. Sedangkan pelestarian dalang dia mengajukan tantangan kepada generasi penerus yang berprofesi sama supaya memiliki niat dan minat menggelutinya. 

      Kepada SKPD terkait Ki Kartono berharap supaya wayang purwa gagrak pesisiran laseman diperhatikan supaya tak punah dengan cara sering ditampilkan pada even perayaan hari besar berkaitan seni dan budaya. Jika menerima job permintaan perseorangan dipatok harga antara Rp15-20 juta namun bila Pemkab yang meminta tampil dibanderol di bawah Rp10 juta, dengan durasi pagelaran sekira empat jam.

     Terpisah Ketua Forum Komunitas Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, Ernantoro sebutkan pihaknya tak semata berkecimpung pada penelitian dan penyelamatan situs-situs kepurbakalaan saja tetapi juga peduli dengan seni budaya khas Lasem terasuk wayang purwa gagrak pesisiran Lasem. Hanya saja lantaran keberadaannya baru diketahui sekira sebulan silam tentu akan digali data empiriknya terlebih dahulu untuk landasan keilmiahannya dalam upaya pelestarian termasuk guna perencanaan penampilannya di depan publik.

       Toro sapaan akrabnya sampaikan informasi yang telah diperoleh diketahui wayang purwa gagrak pesisiran Lasem mulai muncul tahun 1950an, sering dimaikan empat dalang generasi pertama terdiri Ki Sarpan Desa Ngopoh Kecamatan Pancur, Ki Teger Desa Karangturi Kecamatan Lasem, Ki Wiryo Desa Megal Kecamatan Pamotan dan Ki Rus Desa Babagan Kecamatan Lasem. Pagelaran wayang saat itu dimulai pukul 21.00 sampai 05.00 pada hajatan warga atau sedekah bumi.


       Lanjut Toro generasi kedua meliputi Ki Darmadi Desa Babagan, Ki Pangkat Joyo Warsito Desa Karangturi, Ki Gunadi Desa Selopuro, Ki Kastari Desa Jolotundo, Ki Soeradji Desa Sumbergirang dan Ki Kusmen Desa Gedongmulyo kesemuanya di Kecamatan Lasem dan telah berpulang. Penerusnya tersisa Ki Sahir Desa Jolotundo, Ki Ramelan Desa Doropayung, Ki Priyo dan Ki Kartono Desa Sendangasri yang semuanya berada di Kecamatan Lasem. (heru budi s)
Reaksi: 

Post a comment

Live 102.1 Radio CBFM

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::