Mengundurkan Diri Dari Pendidik Fokus Budidaya Cacing

-- --
Rasdadik pamer cacing lumbricus yang hasilkan pendapatan jutaan rupiah per bulan

Rasdadik tak pelit bagikan pengetahuan budidaya cacing bahkan siap gandeng warga lain kerja sama menggelutinya

Rembang-Bukan lantaran jenuh dengan pekerjannya sebagai pendidik di salah satu Sekolah Kejuruan Menengah (SMK) swasta di Rembang, namun pertimbangan ekonomi yang mendorong Rasdadik (36) mengundurkan diri dari pekerjaannya. Usaha peternakan cacing yang kini digelutinya justru memberikan harapan cerah karena permintaan pasar sangat tinggi sementara pasokan jauh sangat kurang sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhinya.

Guru pengajar mapel matematika itu baru pamit berhenti mengajar sebulan silam, namun sebelumnya telah disiapkan alternatif pekerjaan untuk menopang hidup keluarga. Usaha peternakan cacing tak dikembangkan di Desa Soditan Kecamatan Lasem domisilinya setelah menikah, tetapi dikerjakan di tempat kelahirannya Desa Ngadem Kecamatan Rembang bersama famili dan tetangga dengan nama Kelompok Tani Lumbrica.

Dadik sapaan akrabnya menuturkan usaha yang bagi orang lain dinggap menjijikkan itu justru memiliki prospek bagus karena dari salah satu perusahaan farmasi dari Semarang telah mengajak kerja sama secara kontraktual sebanyak 2 ton per pekan, sedangkan kemampuannya baru sebatas 5 kwintal per bulan. Sehingga ingin lebih banyak lagi warga mau mengelutinya karena kenyataannya bukanlah menjadi pekerjaan sampingan tetapi utama dengan penghasilan jutaan rupiah per bulan.

Lanjut Dadik, cacing yang diternak terdiri 3 jenis yaitu African Night Crawler, Perionyx Excavatus dan Lumbricus Rubellus, dua nama yang disebut awal merupakan bahan baku umpan memancing dan campuran pakan ikan yang di pasaran laku dijual paling mahal Rp35 ribu per kilogram, dengan harga bibit campuran seharga Rp30 kilogram. Sedangkan jenis terakhir dibanderol Rp50 ribu lebih per kilogram dengan bibit seharga Rp120 ribu per kilogram, namun sekali beli karena nantinya akan bertelur dan berisi sedikitnya 4-6 ekor anakan, sehingga tidak merugikan calon pembudidayanya.

Dadik tuturkan perawatan awal jika membudidayakan dari telur sampai siap dijual butuh waktu 4 bulan dan hal ini dinilainya terasa berat bagi pemula, untuk itu disarankan pada pembesaran dari cacing  kecil yang hanya perlu 40 hari sudah bisa menjual. Adapun media tumbuh yang pas adalah dari limbah sagu didapat dari kabupaten Pati dicampur kotoran sapi atau irisan batang tanaman pisang usai dipanen, sedangkan pakan memanfaatkan ampas tahu dan ketela atau sampah  organik atau sayur/buah sisa memasak bahkan basi dengan catatan kesemuanya dihaluskan berikut dicampur air secukupnya agar mudah dikonsumsi cacing.

Disinggung pengetahuan budidaya cacing sendiri Dadik terangkan banyak belajar dari situs-situs di internet dan langsung praktek dan hal itu mudah diwujudkan dengan catatan dilakukan bukan sekedar uji coba namun menjadi pilihan utama bekerja sehingga fokus dalam membudidayakan.. 

Ditambahkan target 2 ton per pekan mungkin baru terealisasi tahun depan selain mengandalkan tempat budidaya berukuran 4 X 7 meter miliknya tentu perlu tambahan dari kelompok tani lain, adapun bagi yang ingin membudidayakan dan butuh pelatihan disanggupinya secara gratis. Tercatat telah memberikan pembekalan cara beternak cacing dan bergabung dengan dirinya yaitu Desa Sluke Kcamatan Sluke, Desa Sumbermulyo Kecamatan Sarang, berikutnya Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem, Desa Panohan Kecamatan Gunem dan Desa Sulang Kecamatan Sulang. ( heru budi s )

Reaksi: 

Post a comment

Live 102.1 Radio CBFM

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::