Harga jual mahal, Petani Pilih Tanam Jagung Hibrida

-- --

Rembang-cbfmrembang.com, Jagung merupakan komoditi pertanian yang memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan. Budidayanya lebih mudah dibandingkan tanaman palawija lainnya, oleh karena itu kalangan petani  menyukai menanamnya untuk meningkatkan penghasilan terlebih jenis hibrida karena berharga jual mahal dibanding yang biasa. 

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang Suratmin usai kegiatan panen raya jagung hibrida di Desa/Kecamatan Bulu, baru-baru ini menjelaskan,   tanaman jagung sangat cocok dikembangkan di wilayah Bulu karena tidak begitu membutuhkan air, sehingga cocok ditanam di area pertanian tadah hujan atau daerah yang bercurah hujan rendah seperti halnya di Kabupaten Rembang.

Suratmin lebih lanjut sampaikan perhitungan ubinan hasil panen jagung hibrida oleh kelompok tani Margo Budi mencapai13,6 ton per hektare dengan harga jual di tingkat petani pada kisaran Rp2.400 per kilogram, sedangkan biaya yang dikeluarkan sekira Rp12 juta, dengan demikian pendapatan yang diraup terhitung sangat tinggi. Adapun untuk permintaan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) melalui pengepul yang ada di Rembang harus memenuhi kriteria berkadar air 17% yang dihargai Rp4.100 per kilogram. 

Disinggung mulai kapan dan persebaran budidaya jagung hibrida di wilayah Rembang, Suratmin sebutkan petani memilih menanamnya, sekira tahun 2010  banyak demplot dari sponsor  berkelanjutan dalam kerja sama budidaya.  Adapun sampai tahun ini sudah menyebar di 14 kecamatan dengan luasan variatif antar wilayah dan terkecil di Kaliori karena lahan pertaniannya mampu dua kali tanam padi. 

Suratmin tambahkan jenis jagung hibrida adalah jagung yang pada proses pembuatannya dengan cara pemuliaan dan penyilangan antara jagung induk jantan dan jagung induk betina sehingga menghasilkan jagung jenis baru yang memiliki sifat keunggulan dari kedua induknya. 

Sebagai komoditi unggulan kelebihannya terletak pada kapasitas produksinya yang tinggi antara 8-12 ton per hektar, sedangkan kekurangannya adalah tidak bisa diturunkan lagi sebagai benih karena produksi akan turun mencapai 30%, menimbulkan ketergantungan mencari bibit bagi petani dalam tiap budidaya. ( heru budi s ) 
Reaksi: 

Berita Terkait

Terbaru 4730558793550056044

Post a comment

Live 102.1 Radio CBFM

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::