Keberadaan Pabrik Semen Terus DiKomunikasikan Secara Transparan

-- --
Dialog interaktif dampak penghentian pabrik semen  menghadirkan nara sumber Hermawan Sulystio Peneliti LIPI, Sosiolog UNS Tri Marheni Puji Astutik dan Bupati Rembang Abdul Hafidz 
Rembang-cbfmrembang.com, Adanya putusan hukum dari Mahkamah Agung terhadap  penutupan pabrik semen Rembang membawa beberapa konsekwensi dampak  sosial,  salah satunya ribuan pekerja pabrik yang direkrut sekarang ini menganggur .Hal tersebut  disampaikan Bupati Rembang, Abdul Hafidz dalam dialog dampak penutupan pabrik semen Rembang di Hotel Pandanaran Semarang, Baru-baru ini (24/1/ 2017).

Menurut Bupati persoalan dampak sosial yang diakibtakan adanya penutupan pabrik semen sangat beragam mulai dari dagangan menjadi sepi, kos-kosan sepi,kredit motor tidak kuat dibayar  maupun persoalan lainnya. Permasalahan tersebut tentunya tidak mungkin dalam waktu sekejap bisa diatasi. Untuk itu Ia mengajak kubu pro dan kontra pendirian pabrik semen untuk bisa berpikir lebih desawa. Walaupun dengan kondisi beda pendapat namun tetap bisa mengedepankan persaudaraan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 

Bupati Lebih lanjut mengatakan sejak awal berdirinya pabrik semen hingga sekarang ini diakuinya tidak ada pertengkaran, walaupun ada letupan kecil menurutnya merupakan hal biasa dalam menyampaikan aspirasi. Namun demikian adanya perbedaan pro dan kontra tersebut jangan sampai berpengaruh dan bisa menimbulkan konflik. Pemkab dari awal terus mengkomunikasikan dengan transparan tanpa ada permainan.

Peneliti utama dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo sepakat, semua elemen masyarakat harus menghormati putusan hukum dari Mahkamah Agung yang memenangkan kubu penolak pabrik semen. 

Hermawan menyatakan kalau ada pihak – pihak yang mempertanyakan dampak lingkungan pabrik semen PT. Semen Indonesia, ada baiknya  melihat kondisi di Gresik atau Tuban, Jawa Timur. Janganlah berbicara tanpa menggunakan data akurat. 

“Dicontohkan terkait partikel debu selama pabrik beroperasi, di Tuban 50 – 60 mili mikron atau dibawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah sebesar 80 mili mikron. Sedangkan pabrik semen di Rembang, menggunakan tekhnologi canggih, dengan partikel debu 30 mili mikron. Artinya, asap dari cerobong pabrik tidak akan nampak” Ungkapnya

 Sementara itu Sosiolog dari Universitas Negeri Semarang, Tri Marheni Puji Astutik mengungkapkan dengan sudah dikethoknya putusan Mahkamah Agung. akan lebih baik masa sekarang menjadi momentum moratorium atau penghentian sementara, sambil menyusun izin baru dengan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang lebih baik dan mampu menekan efek negatif terhadap lingkungan. ( Mufti affandi )

Berita Terkait

Terbaru 7997815551574156728

Post a comment

Radio Online

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::