Media mainstream berbenturan dengan media sosial

-- --
Gubernur jateng Ganjar Pranowo saat menghadiri HPN di pendopo kabupaten Rembang.
REMBANG-cbfmrembang.com, Hidup berbangsa dan bernegara kita saat ini dihadapkan pada pertempuran media mainstream dengan media gratisan (media sosial). Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah- Ganjar Pranowo, saat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat propinsi Jawa Tengah, di pendopo museum RA. Kartini, hari Jum'at (3/3).

Ganjar Pranowo mengatakan  media sosial kontrolnya hampir-hampir sangat sedikit bahkan tidak ada. Padahal media mainstream menurut konstitusi kebebasannya tidak tak terbatas. Contohnya seorang ulama di Rembang KH. Musthofa Bisri yang dalam kesehariannya memberikan siraman rohani yang menyejukkan dicaci maki oleh anak kecil di media sosial. 

Ganjar Pranowo menambahkan di media sosial kita bisa bikin suasana keruh, panas seperti cuaca Jakarta atau sejuk seperti cuaca Rembang. Di sana kita bisa mencaci maki, haters, atau membully seseorang bahkan memberi kabar hoax. Namun yang perlu diketahui kita bisa mengendalikan dengan tidak menjawab apa yang tidak kita senangi, kalau bolak-balik bicara hoax kita bisa blokir si pemberi kabar hoax.

Ganjar Pranowo mengharapkan ketika di media sosial kita jangan mengalah. Kalau kita mengikuti adagium yang "waras ngalah" itu salah. Karena akan memberi ruang bagi yang edan untuk mengaku waras. Akhirnya dia seolah-olah waras dan mengaku benar. Tetapi yang waras beneran malah diam. Sehingga mulai hari ini tidak boleh kita hanya diam di media sosial.

Ganjar Pranowo mengungkapkan hoax harus dilibas, hoax harus dilawan. Dan orang baik, orang benar harus bicara. Karena silent movement juga menginginkan kesejukan. Diantara arus haters dan arus hoax yang muncul, maka arus kebenaran juga harus mendesak di media itu. Kabar  hoax menjadi tren internasional karena menjadi musuh bangsa-bangsa di dunia.

Ganjar Pranowo mengungkapkan  dibalik kekurangan media sosial ada kelebihannya. Dicontohkan jika dia ingin blusukan ke Rembang dari Semarang membutuhkan waktu 3 jam. Namun ketika memakai media sosial seperti Twitter atau Facebook hanya butuh beberapa menit program pemerintah atau keluhan masyarakat bisa langsung diketahui.

Selain itu bila seseorang yang sedang pergi wisata memotret dirinya lalu disebarkan ke media sosial juga turut mempromosikan tempat wisata.(Masudi )
Reaksi: 

Berita Terkait

Sosial 2072798241243417097

Post a comment

Live 102.1 Radio CBFM

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::