Dengan Si BAPER, Puskesmas Pamotan Buru TBC

-- --
Dokter Nur Khotib saat memeriksa dahak salah satu warga

PAMOTAN-cbfmrembang.com, Strategi pengendalian Tuberculosis (TBC) adalah dengan menemukan dan mengobati sampai sembuh. Sesuai standart World Helath Organization (WHO) menetapkan Case Notofication Rate (CNS) adalah 291 temuan penderita TBC per 100ribu jiwa. CNS adalah angka yang menunjukkan jumlah seluruh pasien TBC yang ditemukan dan tercatat diantara 100ribu penduduk di suatu wilayah. Berarti dari 45 ribu jumlah penduduk kecamatan Pamotan harus menemukan 129 kasus TBC.

Untuk bisa menemukan kasus TBC tentu harus ada pemeriksaan riak (dahak), dalam hal ini secara teori wilayah Pamotan yang jumlah penduduknya 45ribuan harus memeriksa riak (dahak) 1.336 orang dalam setahun. Ternyata setelah dievaluasi, pada tahun 2017 hanya memeriksa 206 orang. Hal itu disampaikan kepala Puskesmas Pamotan dr.Nur Khotib kepada reporter CBFM.

“ Dari 1.336 kita memeriksa hanya 206. Bagaimana kita bisa menemukan angka kasus yang 129? Ini menjadi keprihatinan saya. Kalau menjanjikan menemukan memang tidak bisa kita pastikan tapi setidaknya ada usaha. Kalau memang secara teori kita harus memeriksa 1.336 maka setidaknya harus mendekati angka tersebut.” Ungkapnya.

Minimnya jumlah pemeriksaan riak (dahak) dikarenakan kesadaran masyarakat akan pentingnya memeriksa kesehatan masih kurang. Kebanyakan masyarakat menganggap remeh penyakit batuk berdahak. Hanya ketika batuknya sudah berbulan-bulan hingga badannya kurus, atau sudah batuk keluar darah baru periksa ke dokter. Padahal, kalau memang orang tersebut positif TBC dalam jangka waktu tersebut tentu sudah menularkan virus ke orang di sekitarnya.

Maka dari itu Puskesmas Pamotan berinisiatif mengadakan program Ambulan Pencari Riak (dahak) yang disingkat menjadi BAPER. BAPER dilakukan dengan kunjungan ke desa-desa. Selain memeriksa riak (dahak) tim BAPER juga melakukan edukasi tentang bahaya TBC dan cara mengantisipasinya.

“TBC sangat berbahaya. Jadi TBC secara umum menyerang paru-paru. Dimana paru-paru sebagai alat nafas. Yang paling berbahaya adalah gagal nafas. Kalau sampai gagal nafas berarti telah selesai (meninggal). Tetapi sebagian kasus TBC bisa kemana-mana, bisa TBC tulang atau otak. TBC merupakan pintu masuk penyakit lain, karena orang yang kena TBC hidupnya tidak berkualitas. Nafsu makan tidak ada, tidurnya kurang sehingga daya tubuh drop kemudian penyakit lain bisa masuk.” Terangnya.

Dr Nur Khotib juga mengatakan, sebenarnya untuk penyembuhan TBC sangat mudah namun butuh waktu. Kurang lebih selama 6 bulan penderita harus memperoleh pengobatan rutin. Soal biaya pengobatan seharusnya tidak menjadi alasan karena sekarang pemerintah telah menganggarkan dana untuk pengadaan obat yang diberikan kepada masyarakat secara gratis.(Ita/Mifta)
Reaksi: 

Berita Terkait

Terbaru 6773099740945053176

Post a comment

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::