Hanya Menyisakan Dua Dalang, Pementasan Wayang Gagrak Lasem Sukar Dikuasai

-- --
    Ki Sahir saat memainkan wayang gagrak di depan reporter CBFM, kemarin

Kepopuleran wayang gagrak pesisiran Lasem kian meredup seiring berkembangnya jaman. Kini hanya menyisakan dua orang dalang saja yang bisa memainkan kesenian asli dari Lasem yang lahir di era Majapahit ini.

Kedua dalang itu yakni Ki Sahir dari Desa Jolotundo Kecamatan Lasem dan dan Ki Kartono Desa Sendangasri Kecamatan Lasem. Upaya pengkaderan hingga saat ini belum maksimal dan dikhawatirkan punah lantaran tak ada lagi yang sanggup memainkannya.

Ki Sahir saat ditemui di kediamannya di Desa Jolotundo kepada CBFM (18/3) mengatakan, yang bisa meneruskan kesenian wayang gagrak Lasem sebelumnya ada 4 orang. Mereka adalah Ki Sahir Desa Jolotundo, Ki Ramelan Desa Doropayung, Ki Priyodari (ayah dari dalang Gondrong) dan Ki Kartono Desa Sendangasri.

Namun dua diantara keempat dalang itu sudah berpulang ke rahmatullah. Hingga kini hanya menyisakan dirinya dan Ki Kartono saja.

“Setelah dalang yang tua-tua itu sudah tidak ada, yang bisa meneruskan wayang gagrak Lasem itu Ki Sahir, Ki Ramelan, Ki Priyodari ayah dari dalang Gondrong, dan Ki Kartono. Kemudian dalang Ramelan Doropayung sudah kapundut, ayah dari dalang Gondrong juga sudah kapundut. Hanya tinggal saya dan Mas Kartono,” bebernya.

Ki Sahir mengungkapkan sebenarnya ada beberapa orang yang ingin belajar memainkan kesenian wayang gagrak Lasem, salah satu diantaranya yaitu Dalang Gondrong. Ia pun sangat terbuka dan berterimakasih jika ada yang mau belajar dan melestarikan kesenian asli dari Lasem itu.

Sementara itu, Budayawan Lasem Yon Suprayoga menjelaskan wayang gagrak pesisiran Lasem merupakan induk dari wayang gagrak yang ada di beberapa daerah. Seperti wayang gagrak Solo, wayang gagrak Jogja, wayang gagrak Kebumen, dan lain sebagainya.

Wayang gagrak Lasem sendiri memiliki ciri khas yang berbeda dengan wayang gagrak daerah lain. Perbedaan itu terletak pada awal pentas wayang gagrak Lasem yang selalu diawali dengan permainan wayang golek.

Kemudian, lanjut dia gamelan yang mengiringinya harus bernada slendro dan tidak boleh ada nada pelog. Inilah yang menjadi hal yang paling sulit jika ingin mementaskan wayang gagrak Lasem.
Nada slendro itu, lanjut dia, menggambarkan suasana yang megah namun sunyi, muram namun tenang, sunyi dan mengandung harapan. Berbeda dengan pelog yang menggambarkan suasana gagah perkasa, dan agung.

“Gamelanya yang mengiringi harus slendro, kalau pelog sudah tidak bisa. Makanya ini salah satu yang menjadikan kesulita kalau mementaskan. Mulai dari awal sampai akhir itu slendro semua, tidak boleh ada pelog,” jelasnya.

Ia menambahkan, wayang gagrak Lasem juga memiliki ciri khasnya dari tokoh-tokohnya, yakni ratu, patih alus, patih kasar, emban ayu, emban elek, golek ayu dan kyai regol. Hal unik dari ketujuh wayang golek ini, setiap wayang boleh diberi nama atau tokoh sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, hanya kyai regol yang tidak boleh diganti.

Kyai regol harus tetap menjadi kyai regol. Dia tidak bisa menjadi arjuna, tidak bisa duryudana, tidak bisa menjadi dewa, tidak bisa menjadi sengkuni, bisma ataupun dorna ataupun menjadi yang lain. (Rendi/Mifta)

Berita Terkait

Terbaru 7048074301343878640

Post a comment

Radio Online

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::