Belajar Dari Perjuangan Suratni, Pembatik 60 Tahun Kayuh Sepeda 2 jam Setiap Hari

-- --

Hari ini kami mencoba mengenal lebih dekat dengan salah seorang pembatik yang ada di Lasem. Kami pun mengunjungi salah satu pengusaha batik tulis Lasem yang cukup terkenal dan melegenda, Yakni Batik Maranatha yang berada di Desa Karangturi Kecamatan Lasem.

Kedatangan kami disambut Reni Maranatha sang pemilik Batik Maranatha tentunya bersama Henry Setiawan suaminya. Rumahnya berarsitek kuno dengan penuh foto- foto keluarga dan pajangan yang nampaknya berumur sudah tua.

Ada sekitar lima pembatik disana, dan kami pun menghabiskan waktu dengan berbincang dengan salah satu pembatik yang sudah lama bekerja disana. Suratni namanya , rambutnya sudah beruban dan memakai kacamata.

Kami berbincang cukup lama. Pertanyaan yang kami lontarkan, Ia jawab sembari membatik.

Yang membuat kaget dari sosok Suratni adalah rumahnya yang jauh dari tempat dia kerja. Ya, simbah itu tinggal di Desa Ngulangan Kecamatan Pancur.

Padahal perempuan berusia 60 tahun itu setiap harinya menggunakan sepeda ontel untuk pergi bekerja. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam untuk ke maranatha batik, dan jika pulang membutuhkan waktu lebih lama karena jalannya yang menanjak untuk ke Ngulangan.

"Capek ya berhenti, sendirian. Kalau naik sepeda ngebut, biar cepat sampai. Kalau pulang juga begitu biar sempat masak (untuk berbuka keluarga- red), sampai baratnya desa Wuwur mulai nuntun sampai rumah,jalannya nanjak, " ungkapnya.

Meskipun Ibu yang memiliki dua anak dan
Lima cucu itu bekerja dari pagi sampai sore, Ia tak melupakan kodratnya sebagai orang istri yang memasak untuk keluarga berbuka puasa. Sebelum berangkat kerja pun Ia memasak dan bersih- bersih rumah terlebih dahulu.

Saat ditanya kenapa bekerja dan sampai saat ini masih membatik, Wanita yang sudah membatik sejak kecil itu menuturkan suaminya seorang petani yang tidak setiap hari mendapat penghasilan. Untuk itulah Ia bekerja membantu perekonomian keluarga dan menjadi wanita yang mandiri.

"Suami petani kan tidak setiap hari dapat uang. Saya juga pengen cari uang sendiri, " imbuhnya.

Terkait usianya yang sudah menua, tentu berpengaruh dengan penglihatan. Dimana seperti diketahui membatik membutuhkan kesabaran dan ketelitian, terlebih jika motifmya sulit dan penuh. Suratni pun bersyukur belum mengalami kendala berarti, penurunan ketajaman penglihatannya masih bisa diatasi dengan kacamatan

Hingga saat dirinya belum memiliki rencana pasti kapan akan berhenti atau pensiun sebagai pembatik. Ia hanya mengatakan jika tubuhnya sudah tidak bisa membatik, saat itulah ia berhenti. (Mifta/Mifta)

Berita Terkait

Terbaru 3479980314968059309

Post a comment

Radio Online

Politik

item
::: Anda juga dapat mendengarkan siaran kami memalaui Streaming website www.cbfmrembang.com ::: E-mail redaksicbfmrembang[@]gmail.com :::: Info pemasangan iklan Wida Susanti 0822 4106 1891 ::: Tlpn ( 0295 ) 691613 ::: Pemberitaan 085 226 904 720 :::